Selasa, 13 November 2012
ketertarikan interpersonal
ketertarikan interpersonal
Pendahuluan
Respon awal kita (misalnya, terhadap penampilan) seringkali merupakan akibat dari reaksi emosional kita; kemiripan itu penting; dan interaksi yang menyenangkan sangatlah penting. Semakin orang mengenal dengan baik, banyak factor dapat muncul untuk merubah rasa suka pada awalnya, menjadi rasa tidak suka.
Pada bab ini, kita akan menggambarkan bagaimana dua orang menjadi saling kenal, seringkali merupakan akibat pertemuan yang tidak disengaja di sekolah, tempat kerja atau tempat tinggal mereka. Detail-detail yang tampaknya tidak penting saat terjadi kedekatan fisik (physical proximity). Dengan orang lain dapat meningkatkan atau mengurangi kemungkinan bahwa dua individu akan sering mengalami kontak. Dan kontak yang terus menerus seringkali merupakan dasar awal ketertarikan. Factor kedua yang sangat penting adalah keadaan afektif (affective state) seseorang. Kedengarannya terlalu disederhanakan (namun cukup tepat). Jika dikatakan bahwa kita cenderung menyukai orang yang dihubungkan dengan emosi positif dan tidak menyukai orang yang dihubungkan dengan emosi negative.
Reaksi emosional terhadap orang-orang yang kita temui sebagian ditentukan oleh bagaimana kita mempersepsikan karakteristik yang dapat diamati (observable characteristics). Proses ketertarikan juga bergantung pada kebutuhan orang-orang terkait. Tergantung pada kekuatan afiliasi (affiliation motivation) masing-masing orang, mereka dapat lebih atau kurang termotivasi untuk membina suatu hubungan.
Jika empat factor (kedekatan fisik, emosi positif, karakteristik yang dapat diamati dan kebutuan akan afiliasi) bekerja, proses ketertarikan dapatbergerak ke tahapan yang terakhir. Yaitu, dua orang mulai menemukan sejauh mana kesamaan mereka disbandingan ketidaksamaan sehubungan dengan sikap, keyakinan, nilai-nilai, minat dan banyak hal lainnya. Ketertarikan meningkat terkait dengan sejauh mana kesamaan melebii ketidaksamaan. Langkah terakhir muncul jika setiapindividu mulai mengkspresikan sikap saling menyukai (mutual liking), baik melalui kata-kata maupun perbuatan.
• Awal Ketertarikan : Kedekatan dan Emosi
Ketertarikan Interpersonal
Ketertarikan interpersonal (interpersonal attraction) merujuk pada suatu sikap mengenai orang lain. Evaluasi interpersonal semacam itu berada pada suatu dimensi yang berkisar dari suka hingga tak suka.
Penelitian mengenai ketertarikan interpersonal dirancang untuk mengidentifikasi secara detail factor-faktor yang berperan pada evaluasi seseorang terhadap yang lain. Banyak psikolog social yakin bahwakita membuat evaluasi positif jika kita merasakan perasaan ositif dan membuat evaluasi negative jika kita merasakan perasaan negative. Secara sederhana dikatakan, rasa suka dan tidak suka interpersonal kita ditentukan oleh emosi.
Jika preposisi kita benar, factor apapun yang mempengaruhi keadaan emosional seseorang, pada gilirannya akan mempengaruiketertarikan. Anda juga arus mencatat bahwa tingkahlaku interpersonalterkadang lebih kompleks daripada anya akibatdari emosi positif dan negative pada rasa suka dan tidak suka.
Kekuatan dari Kedekatan :
Kontak yang Tidak Direncanakan Dapat memunculkan ketertarikan
Apa yang menentukan kesadaran, interaksi dan derjat ketertarikan? Suatu penentu atau determinan yang jelas, tetapi mungkin tidak selurunya nyata, ditentukan oleh lingkungan fisik yang di sekitar kita. Banyak detail yang tampaknya tidak penting mengenai tempat dimana kita tinggal, bekerja dan pergi bersekolah menunjukan pengaruh yang penting namun seringkali terlupakanterhadap tingkah laku interpersonal kita. Secara sederhana dapat dikatakan bawa dua orang cenderung menjadi kenal jika factor-faktor eksternal (misal, lokasi kamar asrama, tempat duduk di kelas, meja kerja dan lain-lain) menyebabkan mereka menjadi sering mengadakan kontak.
MENGAPA KEDEKATAN PENTING: REPEATED EXPOSURE. Ditemukan bahwa repeated atau paparan berulang terhadap suatu stimulus baru (wajah asing, lukisan abstrak, suatu produk, atau apapun) biasanya akan berakibat pada evaluasi yang semakin positif terhadap stimulus tersebut (Zajonk, 1968).
Penjelasan Zajonk adalah secara umum kita berespons dengan paling tidak sedikit rasa tidak nyaman ketika kita bertemu siapa pun atau apa pun yang tidak dikenal atau familiar. Kata familiar (bahasa Inggris) berhubungan dengan kata family (keluarga) dan repeated exposure memungkinkan kita untuk memasukan individu-individu baru dan aspek-aspek baru dunia ke dalam keluarga besar kita. Bahkan dengan tidak adanya bahasa, hewan dapat mengkatagorisasikan dan mengklasifikasikan mahluk-mahluk yang spesifik dalam pertemuan social mereka sebagai kawan dan lawan.
Meskipun efek repeated exposure telah dibuktikan dalam berbagai eksperimen dengan menggunaka berbagai stimulus, Hansen dan Bartsch (2001) mengajukan kemungkinan bahwa tidak semua individu sama responsifnya terhadap efek repeated exposure. Secara spesifik, mereka mengusulkan bahwa orang-orang yang paling membutuhkan struktur akan paling mudah dipengaruhi oleh efek repeated exposure. Para peneliti menyimpulkan bahwa pernyataan “tak kenal maka tak sayang” harus dimodifikasi menjadi “tak kenal maka tak sayang, jika anda memiliki kebutuhan akan struktur yang tinggi”.
Repeated exposure terhadap suatu stimulus mempengaruhi evaluasi seseorang terhadap stimulus tersebut, meskipun mereka tidak sadar bahwa paparan tersebut telah terjadi. Bahkan, efeknya lebih kuat pada kondisi tersebut. Bornstein dan D’Agostino (1992) menampilkan stimulus kepada beberapa partisipan penelitian pada kecepatan normal dan kepada beberapa yang lain dengan jarak yang sangat cepat sehingga mereka tidak sadar telah melihat stimulus-stimulus tersebut sebelumnya (kecepatannya diaanggap subliminal atau di bawah ambang batas). Efek berulang ditemukan pada dua kondisi, namun efeknya lebih besar ketika stimulus tersebut ditampilkan secara subliminal daripadaketika pada kecepatan normal.
Efek repeated exposure yang subliminal mempengaruhi tidak hanya evaluasi terhadap stimulus yang spesifik, namun juga terhadap stimulus yang lain. Dengan kata lain, afek positif dibangkitan oleh tampilan suatu set stimulus yang spesifik tergeneralisasi ke stimulus yang lain.
Perhatikan bahwa ada pengecualian terhadap efek repeated exposure. Pengecualian yang paling penting adalah jika reaksi awal seseorang teradap orang atau sesuatu yang lain sangat negative, repeated exposure tidak meningkatkan rasa suka dan terkadang bahkan berubah menuju rasa tidak suka yang lebi besar. Pada sebagian besar situasi interpersonal, untungnya, reaksi awal kami terhadap orang lain adalah netral, hanya sedikit negative, atau bahkan sedikit positif. Sebagai akibatnya, repeated exposure berakibat pada semakin meningkatnya perasaan positif dan relasi yang bersaabat.
raksi Interpersonal adalah daya tarik antara orang-orang yang mengarah ke persahabatan dan romantis hubungan . Studi tentang atraksi interpersonal merupakan area utama penelitian dalam psikologi sosial . atraksi interpersonal ini terkait dengan berapa banyak kita suka , cinta , benci, atau membenci seseorang. Hal ini dapat dilihat sebagai gaya bertindak antara dua orang yang cenderung menarik mereka bersama-sama dan menolak perpisahan mereka. Ketika mengukur daya tarik interpersonal, kita harus mengacu pada kualitas dari menarik serta kualitas dari attractor untuk mencapai akurasi prediktif. Disarankan bahwa untuk menentukan daya tarik, kepribadian dan situasi harus diperhitungkan. Tolakan juga merupakan faktor dalam proses tarik interpersonal,'s konsepsi salah satu "daya tarik" lain dapat bervariasi dari atraksi ekstrem tolakan ekstrim. [2]
Penyebab :
Banyak faktor yang menyebabkan atraksi interpersonal telah dipelajari. Yang paling sering dipelajari adalah: daya tarik fisik , keakraban , keakraban , kesamaan , saling melengkapi , menyukai timbal balik , dan penguatan . Dalam masyarakat rayuan ada konsep switch daya tarik untuk pria menarik wanita yang mirip dengan faktor catat sebelumnya.
Menurut Hubungan Intim teks Rowland Miller, pengaruh keakraban dapat didefinisikan sebagai: "semakin kita melihat dan berinteraksi dengan seseorang, semakin besar kemungkinan ia menjadi teman kita atau pasangan intim." Efek ini sangat mirip dengan hanya akibat pemaparan dalam bahwa semakin seseorang terkena rangsangan, semakin banyak orang yang menyukainya, namun ada beberapa pengecualian kepada hanya akibat pemaparan . [3]
Langganan:
Postingan (Atom)